TIMES MADIUN, JAKARTA – Perubahan format Liga Europa mulai memperlihatkan dampaknya. Seperti halnya Liga Champions, delapan tim teratas di fase liga kini langsung mengamankan tiket ke babak 16 besar, sementara tim peringkat 9 hingga 24 harus melewati jalur playoff dua leg yang lebih berisiko. Skema ini bukan hanya soal klasemen, tetapi juga tentang konsistensi dan ketahanan tim sepanjang fase awal kompetisi.
Hingga penutupan fase liga pada Kamis waktu setempat, peta delapan besar semakin jelas. Di bawah dua pemuncak klasemen, Olympique Lyon dan Aston Villa, posisi elit diisi oleh Midtjylland, Real Betis, FC Porto, SC Braga, SC Freiburg, dan AS Roma.
Midtjylland mencuri perhatian dengan kemenangan 2-0 atas Dinamo Zagreb, hasil yang mengangkat wakil Denmark itu ke peringkat ketiga, hanya terpaut dua poin dari Lyon dan Villa. Secara statistik, performa Midtjylland menunjukkan efisiensi tinggi, terutama dalam memaksimalkan laga kandang dan transisi cepat saat menyerang.
Di Sevilla, Real Betis meraih kemenangan penting 2-1 atas Feyenoord. Mantan winger Manchester United, Antony, tampil menentukan lewat satu gol dan satu assist untuk Abde Ezzalzouli. Kontribusi pemain berpengalaman di momen krusial menjadi faktor pembeda dalam persaingan papan atas.
Sementara itu, Porto menunjukkan karakter khas tim Eropa berpengalaman. Tertinggal lebih dulu, mereka bangkit dan menundukkan Rangers 3-1, lompatan yang membawa Porto naik dari peringkat sembilan ke lima. Braga juga memastikan tempat di enam besar usai bermain imbang tanpa gol melawan Go Ahead Eagles. Sebaliknya, Freiburg harus puas turun ke posisi sembilan setelah kalah 0-1 dari Lille OSC, meski bermain dengan sepuluh pemain.
AS Roma menutup fase ini dengan hasil imbang 1-1 kontra Panathinaikos. Gol penyama kedudukan Jan Ziółkowski di menit ke-80 memastikan wakil Italia itu tetap bertahan di zona delapan besar, sebuah capaian penting di tengah ketatnya persaingan.
Di luar delapan besar, drama juga terjadi di zona playoff. Celtic mengamankan satu dari lima tiket playoff tersisa usai menang 4-2 atas FC Utrecht. Mereka unggul cepat 3-0 dalam 20 menit pertama, sebuah indikator betapa start agresif kini menjadi kunci dalam format baru ini.
Aston Villa sendiri menutup fase liga dengan kemenangan dramatis 3-2 atas Red Bull Salzburg. Gol penentu Jamaldeen Jimoh-Aloba di menit ke-87 melengkapi comeback setelah Villa sempat tertinggal dua gol. Namun, kemenangan tersebut belum cukup untuk menggusur Lyon dari puncak klasemen karena selisih gol.
Dengan undian playoff dijadwalkan berlangsung Jumat, Liga Europa memasuki fase yang lebih taktis dan penuh kalkulasi. Format baru ini menegaskan satu hal: finis di delapan besar bukan sekadar prestise, melainkan keuntungan strategis yang bisa menentukan langkah jauh atau pendek sebuah tim di kompetisi Eropa. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Liga Europa: Lyon dan Aston Villa Kunci Puncak, Betis dan AS Roma Pastikan Delapan Besar
| Pewarta | : Rochmat Shobirin |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |