TIMES MADIUN, TASIKMALAYA – Suasana Stadion Dadaha, yang menjadi ikon ruang publik terbesar dan terpopuler di Kota Tasikmalaya, tampak berbeda pada akhir pekan ini.
Jika biasanya area gerbang stadion hanya dipadati warga yang jogging, bersepeda, hingga komunitas olahraga yang beraktivitas sejak pagi, kali ini ratusan pengunjung disambut deretan booth edukasi yang tertata rapi.
Di belakang booth tersebut, berjajar spanduk-spanduk berukuran besar berisi pesan penting tentang pelestarian lingkungan, pelindungan satwa liar, hingga ajakan untuk mencegah kerusakan ekosistem.
Seorang pengunjung membentangkan produk kain yang ramah linkungan yang dibuat dengan pewarna getah tanaman, Minggu (30/11/2025) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)
Edukasi di Ruang Publik
Nuansa edukatif ini membuat kawasan Stadion Dadaha yang dikenal sebagai pusat aktivitas sosial dan olahraga berubah menjadi ruang penyadartahuan konservasi untuk semua kalangan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari kampanye “Nongki Sawarga Tasikmalaya”, program edukasi konservasi yang digagas oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat Wilayah III, khususnya Seksi Konservasi Wilayah VI Tasikmalaya.
Sejumlah pengunjung saat menuliskan pesan konservasi pada kegiatan Nongki Sawarga Tasikmalaya, di stadion Dadaha. Minggu (30/11/2025) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)
Program ini hadir untuk memperkuat kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga keberlanjutan flora, fauna, dan ekosistem alam yang kini semakin terancam.
Kepala Seksi KSDA Wilayah VI, Sarif Hidayat, S.Sos., M.Sc. yang menginisiasi program ini mengungkapkan tujuan ari iat ini adalah untuk memperluas kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga flora, fauna, dan ekosistem alam yang terus terancam.
Selain itu kegiatan Nongki Sawarga dirancang sebagai anjangsana penyadartahuan mengenai perlindungan kawasan konservasi di wilayah Priangan Timur.
“Saat ini banyak flora dan fauna yang terancam punah. Penyebabnya bukan hanya hilangnya habitat, tetapi juga perubahan iklim, polusi, spesies invasif, serta eksploitasi berlebihan oleh manusia. Aktivitas manusia menjadi faktor terbesar yang membuat tingkat kepunahan jauh lebih cepat dari kondisi alami,” ungkap Sarif kepada TIMES Indonesia, Minggu (30/11/2025)
Ia menambahkan, kurangnya pemahaman masyarakat termasuk tantangan terbesar dalam upaya konservasi. Ketidaktahuan mengenai pentingnya ekosistem membuat sebagian masyarakat masih melakukan praktik merusak lingkungan, seperti deforestasi, perburuan, hingga eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.
Menggugah Kesadaran Masyarakat
Pemilihan Stadion Dadaha bukan tanpa alasan.
Sebagai ruang olahraga dan rekreasi terbesar di Tasikmalaya, stadion ini dikenal sebagai titik berkumpul ribuan warga tiap pagi dan sore, sehingga BBKSDA memanfaatkan momentum ini untuk menghadirkan edukasi yang dekat dengan keseharian masyarakat, tanpa harus mengundang mereka ke kantor atau kawasan konservasi.
Kegiatan Nongki Sawarga tidak hanya menampilkan poster-poster edukatif, tetapi juga diskusi langsung, kuis konservasi, pengenalan flora-fauna dilindungi, hingga ajakan partisipasi dalam gerakan pelestarian alam.
Sarif menegaskan bahwa edukasi adalah fondasi utama dalam menyelamatkan lingkungan. Program ini mengedepankan pendekatan preventif dengan sasaran untuk meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya konservasi dan mendorong mereka mengambil bagian dalam gerakan pelestarian.
Menanamkan perilaku ramah lingkungan sejak dini, mengenalkan satwa dan tumbuhan dilindungi, sekaligus membangun kepedulian jangka panjang. Kemudian Untuk memperkuat penegakan hukum, mendorong kebijakan pro-konservasi, dan memastikan pengelolaan kawasan konservasi berjalan efektif.
"Program ini merupakan implementasi kebijakan berdasarkan UU No. 32 Tahun 2024 tentang perubahan UU Konservasi SDA Hayati, UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, Permen LHK P.106 Tahun 2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa dilindungi,"tandasnya.
Antusiasme Warga
Sementara itu Ilham salah satu warga Kota Tasikmalaya saat ditemui TIMES Indonesia mengapresiasi atas aktivitas yang dilaksanakan oleh BBKSDA Seksi Konservasi Wilayah VI Tasikmalaya. Menurutnya kegiatan ini akan menggungugah paola pikir masyarakat.
"Ancaman terhadap flora dan fauna Indonesia semakin nyata yang berakibat kepada suhu Udara semakin panas, seperti yang kita rasakan ini di Kota Tasikmalaya," ujarnya,
"Perubahan iklim mengganggu pola hidup berbagai spesies, Perburuan liar masih marak, terutama pada jenis satwa bernilai ekonomi tinggi dan maraknya pencemaran lingkungan menurunkan kualitas ekosistem, seperti kandungan mikroplastik dibeberapa sungai di Tasikmalaya meningkat," imbuh Ilham
Nongki Sawarga menurutnya hadir sebagai pengingat bahwa konservasi bukan tugas pemerintah saja, tetapi tanggung jawab kolektif seluruh masyarakat.
Aksi ini sebagai Kampanye konservasi bukan hanya di Tasikmalaya tetapi harus menjadi kegiatan percontohan bagi Lembaga yang ada di Jawa Barat sehingga akan berdampak terhadap perlindungan ekosistem hutan dan air.
"Yang paling berkesan adalah pembagian bibit pohon ke masyarakat di tempat keramaian seperti ini dan langsung diberikan kepada warga sekaligus memberikan edukasi," ungkapnya.
"Ini yang jadi pembeda pada kegiatan koservasi ini, karena keberhasilan penanaman pohon itu salah satunya adalah edukasi pemeiliharaan pohon itu menjadi tumbuh besar, kalua nanamnya gampang, itu yang susah merawatnya," sambung Ilham.
Selain edukasi, BBKSDA Wilayah III juga memperkuat jalinan kolaborasi dengan komunitas pegiat lingkungan, organisasi pelajar, pemerintah daerah, hingga komunitas olahraga yang aktif beraktivitas di Dadaha.
Harapannya, gerakan kecil di ruang publik dapat membentuk efek domino—dari satu warga kepada warga lain hingga melahirkan kesadaran lingkungan yang lebih luas.
Langkah Nyata Demi Keberlanjutan
Salah satu pegiat lingkungan dari Komunitas Republik Aer Tasikmalaya event Nongki Sawarga merupakan Langkah Nyata untuk Mengajak Warga Sadar Konservasi, namun kegiatan tersebut harus dilakukan secara kontinyu untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
"Saya apresiasi giat ini, cuma jangan hanya seremonial belaka, ini giat sangat bagus sekali apalagi kalua melihat data lahan kritis di kota Tasikmalaya ada ratusan hekter dan bencana banjir dan longsor Nampak didepan mata kita,"ujarnya.
Kampanye konservasi di Stadion Dadaha bukan sekadar acara kumpul-kumpul, tetapi gerakan simbolik bahwa upaya menjaga alam harus hadir di tengah kehidupan masyarakat.
Edukasi yang disampaikan langsung, menyentuh, dan mudah dipahami menjadi kunci menciptakan perubahan perilaku.
"Dengan menggandeng masyarakat umum, pelajar, komunitas, dan pemerintah, BBKSDA Jawa Barat saa yakin Tasikmalaya dapat menjadi contoh kota yang peduli terhadap kelestarian alam,"pungkasnya. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Stadion Dadaha Jadi Pusat Edukasi Konservasi, BBKSDA Jabar Gaungkan 'Nongki Sawarga Tasikmalaya'
| Pewarta | : Harniwan Obech |
| Editor | : Ronny Wicaksono |