TIMES MADIUN, CIANJUR – Insiden keracunan massal yang diduga berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Cikalongkulon Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dilaporkan meluas.
Berdasarkan data terbaru hingga Rabu (28/1/2026), jumlah korban kini mencapai 240 orang.
Dampak gangguan kesehatan ini tidak hanya menyerang ratusan pelajar dari enam sekolah berbeda, tetapi juga merembet ke warga kategori balita hingga kelompok lanjut usia (lansia).
Data Penanganan Korban
Camat Cikalongkulon, Iyus Yusuf, menjelaskan bahwa para korban saat ini ditangani di dua fasilitas medis utama. Sebagian besar pasien dilarikan ke Puskesmas Cijagang karena kapasitasnya yang lebih memadai, sementara sisanya ditangani di Puskesmas Cikalongkulon.
"Data terkini menunjukkan total ada 240 orang yang berobat. Dari jumlah tersebut, sebanyak 216 orang sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya membaik," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima TIMES Indonesia, pada Rabu (28/1/2026).
Berikut adalah rincian penanganan medisnya:
- Rawat Inap Puskesmas Cijagang: 15 orang.
- Rawat Inap Puskesmas Cikalongkulon: 5 orang.
- Dirujuk ke RSUD Sayang Cianjur: 4 orang (kondisi serius untuk pemantauan intensif).
- Pulang/Rawat Jalan: 216 orang.
Kronologi dan Kesaksian Warga
Peristiwa ini bermula setelah pendistribusian menu makanan bergizi di enam institusi pendidikan, mulai dari jenjang PAUD hingga Madrasah Tsanawiyah. Namun, seiring pendataan, laporan warga umum yang mengeluh mual dan pusing mulai bermunculan.
Sejumlah orang tua siswa melaporkan adanya keganjilan pada menu ayam suwir yang disajikan. Lauk tersebut disebut memiliki aroma tidak sedap dan tekstur yang lengket.
"Sore hari anak-anak mulai muntah, bahkan ada yang sampai mengeluarkan busa. Kondisi itu memicu kepanikan warga," kata salah satu anggota keluarga korban.
Pemeriksaan Polisi
Merespons kejadian ini, jajaran Polsek Cikalongkulon bergerak cepat melakukan investigasi. Kapolsek Cikalongkulon, AKP Arif Titim Firmanto, menyatakan pihaknya telah menyita sampel makanan dari dapur penyedia di bawah naungan sebuah yayasan lokal.
Sampel yang diambil meliputi nasi, ayam suwir, sayur sawi, tahu, dan buah semangka untuk diuji di laboratorium kesehatan.
"Kami melakukan investigasi menyeluruh terhadap vendor penyedia makanan. Fokus kami adalah melihat apakah ada unsur kelalaian dalam proses pengolahan hidangan tersebut," tegas AKP Arif.
Saat ini, pemerintah daerah fokus memastikan seluruh masyarakat yang terdampak mendapatkan penanganan medis hingga tuntas dan mengimbau warga segera melapor ke posko terdekat jika merasakan gejala serupa. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Dugaan Keracunan MBG di Cianjur Meluas, 240 Orang Jadi Korban Termasuk Balita dan Lansia
| Pewarta | : Wandi Ruswannur |
| Editor | : Ronny Wicaksono |