Lampaui Batas di Jalur Sunyi, Kisah Pelari Disabilitas Mohammad Naim Taklukan Madiun Ultra 70 KM
Bagi Naim, lari bukan sekadar hobi, melainkan alat untuk mematahkan stigma.
MADIUN – Di bawah pekatnya langit malam Madiun, tepat pukul 19.00 WIB, seorang pria berdiri tegap di garis start. Di antara 600 pelari lainnya, sosoknya mungkin tampak biasa, hingga mata Anda tertuju pada tangan kanannya.
Mohammad Naim (31), adalah seorang pelari disabilitas daksa yang baru saja menuntaskan misi mustahil - berlari sejauh 70 kilometer dalam ajang Madiun Ultra 2026.
Lahir di Pasuruan pada 5 September 1994, hidup Naim berubah drastis pada 9 Februari 2015.
Sebuah kecelakaan kerja di pabrik sandal menjepit tangan kanannya, memaksa tim medis melakukan amputasi jari. Namun, alih-alih terpuruk dalam trauma, Naim memilih untuk berlari.
Lawan Diskriminasi Lewat Olahraga
Naim mulai menekuni dunia lari sesaat setelah kecelakaan tersebut. Baginya, lari bukan sekadar hobi, melainkan alat untuk mematahkan stigma.
"Pesan buat teman-teman disabilitas, jangan patah semangat untuk ikut event umum. Diskriminasi pasti ada, tapi kita patahkan dengan olahraga," ujar Naim ketika dihubungi TIMES Indonesia, Senin (20/4/2026)

Event Madiun Ultra yang berlangsung 4-5 April 2026 menjadi debut pertamanya di kategori Ultra Marathon 70 km.
Tanpa pelatih khusus, ia menempa fisiknya sendiri selama tiga bulan, dengan rutinitas lari harian dan manajemen nutrisi yang ketat.
Menembus 'Jalur Sunyi' di Kilometer 54
Perjalanan 70 KM tidaklah mulus. Naim menceritakan titik terberatnya berada di kilometer 54 hingga 59.
Di sana, ia harus menghadapi jalur perbukitan yang didominasi bebatuan tajam tanpa penerangan lampu dan minim penjagaan marshal.
"Benar-benar sangat sepi, tidak ada orang sama sekali. Di saat lelah ekstrem menyerang, saya hanya berpikir harus mengejar Check Off Point (COP)," kenangnya.
Strategi Naim cukup sederhana namun efektif, ia tidak pernah melewatkan Water Station (WS) untuk mengisi energi dan sesekali berbincang dengan pelari lain demi menjaga mentalnya tetap stabil di tengah kegelapan hutan.
Hasilnya luar biasa. Naim berhasil menyentuh garis finish dalam waktu 10 jam, jauh di bawah batas waktu atau Cut Off Time (COT) yang ditentukan panitia.
Harapan untuk Support System Atlet Disabilitas
Meski sukses menaklukkan tantangan fisik, Naim menyoroti masih minimnya dukungan bagi talenta disabilitas di Indonesia.
Menurutnya, banyak penyandang disabilitas yang memiliki potensi luar biasa namun terabaikan karena kurangnya wadah dan dukungan pihak terkait.
"Harapan saya, setiap event olahraga ke depan terbuka lebar untuk kaum disabilitas tanpa diskriminasi. Kami butuh peran dan dukungan nyata dari pihak terkait," tegasnya.
Bagi Naim, finish di Madiun bukan sekadar medali, melainkan pembuktian bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk melampaui batas kemampuan manusia. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

