Kala Jamu Tradisional Bersinar dalam Festival Suadesa 2025 di Borobudur Magelang
TIMES Madiun/UMKM lokal jamu tradisional Desa Karangrejo (foto istimewa)

Kala Jamu Tradisional Bersinar dalam Festival Suadesa 2025 di Borobudur Magelang

Festival Suadesa 2025 yang digelar di Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Gasblock PGN Karangrejo, Borobudur, Kabupaten Magelang menjadi panggung semarak bagi pelaku UMKM lokal, termasuk produsen jamu tradisional.

TIMES Madiun,Selasa 13 Mei 2025, 11:54 WIB
561.8K
E
Edy Setyawan

MAGELANGFestival Suadesa 2025 yang digelar di Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Gasblock PGN Karangrejo, Borobudur, Kabupaten Magelang menjadi panggung semarak bagi pelaku UMKM lokal, termasuk produsen jamu tradisional.

Selama dua hari, 10–11 Mei 2025, acara ini menghadirkan beragam produk unggulan yang mengusung nilai budaya dan keberlanjutan.

Festival ini merupakan bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) Desa Energi Berdikari yang diinisiasi oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN).

Desa Karangrejo yang menjadi desa binaan, kini menikmati geliat ekonomi yang tumbuh pesat berkat dukungan CSR PGN, termasuk melalui festival tahunan ini.

Salah satu yang paling menarik perhatian adalah Djamoenesia, milik Syifa Salsabilia (25), perwakilan komunitas pembuat jamu tradisional Rempon Ndoro.

Djamoenesia menawarkan berbagai varian jamu seperti teh mint, beras kencur, kunir asem, gula asem, dan Golden Rempong (campuran jahe, serai, dan jeruk nipis).

“Memang harga jamu kami sedikit lebih tinggi, mulai dari Rp10 ribu hingga Rp35 ribu, tapi kami menjaga kualitas dan ingin mengajak masyarakat kembali mengonsumsi jamu asli,” ujar Syifa.

Ia menambahkan, seluruh produk Djamoenesia menggunakan bahan premium dan manis alami dari gula batu serta gula aren, tanpa tambahan gula pasir atau perisa buatan. Jamu cair dapat bertahan hingga enam hari di kulkas, enam bulan di freezer, sementara jamu padat bisa disimpan sampai satu tahun.

Penampilan jamu yang dikemas modern dan higienis membuat Djamoenesia laris manis di festival, terutama di kalangan pengunjung dari luar kota yang tertarik dengan jamu tradisional Desa Karangrejo.

Selain Djamoenesia, peserta lain yang menyita perhatian adalah Kakek Riyono (61), perajin mainan kayu asal Borobudur. Ia memamerkan aneka mainan seperti truk, pesawat dan mobil-mobilan hasil kerajinan tangan.

Produk tersebut dijual dengan harga terjangkau, mulai dari Rp15 ribu hingga Rp150 ribu. Dalam dua hari festival, Riyono berhasil menjual sekitar 200 unit mainan. “Saya senang dengan adanya acara seperti Suadesa ini, karena bisa memperkenalkan produk saya lebih luas,” ujarnya.

Festival ini juga membawa dampak ekonomi bagi warga sekitar, termasuk para tukang ojek yang mengantar pengunjung dari jalan utama ke lokasi acara. “Kami siap mensukseskan setiap acara yang ada di Gasblock Karangrejo. Uang hasil ojek kami kumpulkan dulu di kas desa,” kata Naif, salah satu pengemudi ojek.

Festival Suadesa 2025 menjadi bukti nyata sinergi antara energi dan pemberdayaan ekonomi lokal. Melalui festival ini, produk UMKM tak hanya tampil memikat, tapi juga menjadi penggerak ekonomi desa yang mandiri dan berdaya saing tinggi. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Edy Setyawan
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Kabupaten/Kota Madiun, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.